Di Indonesia bagian Timur, tepatnya di Papua, ada sebuah suku nan hasil ukirannya sangat unik dan terkenal di bagian Indonesia lainnya, termasuk bagian bumi di luar Indonesia. Suku nan dimaksud adalah suku Asmat nan merupakan bagian dari kebudayaan suku Asmat .
Jumlah populasi suku Asmat nan berkisar 70.000 orang terbagi dalam dua populasi besar, yaitu mereka nan tinggal di pedalaman dan mereka nan tinggal di pesisir pantai. Cara hidup, ritual, kebiasaan, sistem sosial, dan dialek bahasa kedua populasi ini sangat berbeda. Suku Asmat nan tinggal di daerah pesisir pantai dibagi menjadi suku Bisman dan suku Simai.
Kebudayaan Suku Asmat - Kehidupan Sosial dan Ekonomi Suku Asmat
Suku Asmat ialah sebuah suku di papua. suku asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya nan unik. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka nan tinggal di pesisir pantai dan mereka nan tinggal di bagian pedalaman. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup,sturktur sosial dan ritual.populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman nan berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku simai.
Satu kampung diisi sekitar 35 jiwa sampai 2000 jiwa. Mereka tinggal di Rumah Bujang dan rumah keluarga. Rumah Bujang biasa dipakai buat kegiatan upacara adat atau upacara keagamaan. Adapun, rumah keluarga dihuni oleh beberapa keluarga dan digunakan buat aktivitas sehari-hari.
Sebelum mengenal bercocok tanam, kebudayaan suku Asmat berburu buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Hewan nan sering diburu ialah babi hutan. Mereka juga mengumpulkan makanan dengan cara mengambil tepung dari pohon sagu serta memancing.
Mereka mulai mengenal bercocok tanam ketika bersentuhan dengan orang-orang di luar sukunya. Mereka mulai menanam sayur-sayuran dan kacang-kacangan serta mereka juga mulai beternak. Alasan lain mereka mulai bercocok tanam dan beternak ialah keadaan hutan nan sudah banyak berubah sehingga mengganggu persediaan makanan atau hewan buruan mereka.
Karena sering kontak dengan masyarakat dari luar, suku Asmat mulai mengenal uang, nasi, dan ikan. Mereka mulai menggunakan baju dari kain layaknya orang dari luar Papua. Mereka juga sudah meninggalkan kanibalisme, yakni cara hayati nan mengkonsumsi sesama jenis (manusia). Orang nan mereka anggap musuh akan dibunuh dan bagian-bagian tubuhnya dikonsumsi bersama.
Kebudayaan Suku Asmat - Mengenal Budaya Suku Asmat
Orang-orang Asmat pandai membuat hiasan ukiran. Hebatnya, mereka membuat ukiran tanpa membuat sketsa terlebih dahulu. Ukiran-ukiran nan mereka untuk memiliki makna, yaitu persembahan dan ucapan terima kasih kepada nenek moyang. Bagi suku Asmat, mengukir bukan pekerjaan biasa. Mengukir ialah jalan bagi mereka buat berhubungan dengan para leluhur.
Ukiran patung suku Asmat berkaitan dengan kepercayaan mereka. Ukiran merupakan penghubung mereka nan saat ini masih hayati dengan leluhur. Mereka mempresentasikan roh-roh para leluhur ke dalam ukiran-ukiran di tiang kayu, tameng, atau perahu. Patung nan terkenal dan dianggap paling sakral ialah patung Bis (bioskokombi).
Kini, pembuatan patung dan ukiran lainnya bagi suku Asmat bukan hanya bernilai sakral, tetapi bernilai hemat juga. Patung ini banyak diminati oleh para kolektor, baik dalam negeri maupun dari luar negeri.
Selain ukiran, suku Asmat mempunyai Norma merias paras dan tubuhnya dengan berbagai warna. Warna-warna nan dipakai biasanya warna-warna alami sebab bahannya pun dari alam. Misalnya, buat rona merah diambil dari tanah merah, buat rona hitam diambil dari arang kayu, dan buat rona putih diambil dari kulit kerang nan dihaluskan.
Untuk rona merah, mereka dapatkan dari tanah merah nan banyak di sekitar mereka. Rona putih mereka dapatkan dari kulit kerang nan sebelumnya ditumbuk sampai halus. Dan, rona hitam, mereka dapatkan dari arang kayu, nan juga ditumbuk sampai halus. Selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku Asmat umumnya.
Orang-orang suku Asmat percaya bahwa roh orang nan sudah meninggal bisa menyebabkan bala bagi orang nan masih hidup, menyebabkan peperangan, juga menyebarkan penyakit. Untuk menghindari hal tersebut, orang-orang suku Asmat akan membuat patung dan menyelenggarakan berbagai macam pesta. Di antaranya ialah pesta Bis, pesta Perah, pesta Ulat Sagu, dan pesta Topeng.
Ukiran bagi kebudayaan suku Asmat dapat menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam gambaran dan penghargaan atas nenek moyang mereka nan sarat dengan kebesaran suku Asmat.
Patung dan ukiran umumnya mereka untuk tanpa sketsa. Bagi suku Asmat kala menukir patung ialah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yag ada di alam lain. itu dimungkinkan sebab mereka mengenal tiga konsep dunia, yaitu Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh nan sudah meninggal), dan Safar (surga).
Konon patung Bis ialah bentuk patung nan paling sakral. Namun kini membuat patung bagi kebudayaan suku Asmat tak sekadar memenuhi panggilan tradisi. Sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar Papua.
Kebudayaan Suku Asmat - Adat-Istiadat Suku Asmat
Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat kebudayaan suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan rona kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, nan juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.
Dalam kehidupannya, suku Asmat memiliki 2 jabatan kepemimpinan, yaitu kepemimpinan nan berasal dari unsur pemerintah dan kepala adat atau kepala suku nan berasal dari masyarakat. Sebagaimana lainnya, kepala adat atau kepala suku dari suku Asmat sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan nan berlaku di lingkungan ini.
Segala kegiatan dalam kebudayaan suku Asmat selalu didahului oleh acara adat nan sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan nan sifatnya resmi, diperlukan kerjasama antara kedua pimpinan buat memperlancar proses tersebut.
Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tak diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi dipilih dari orang nan berasal dari fain , atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang pahlawan nan sukses dalam peperangan. Sebelum para misionaris pembawa ajaran agama datang ke wilayah ini, masyarakat suku Asmat menganut Animissme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.
Dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat dalam kebudayaan suku Asmat menjalankannya melalui berbagai proses, sebagai berikut:
Kehamilan
Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar bisa lahir dengan selamat dengan donasi ibu kandung alau ibu mertua. Generasi penerus akan didik berdasarkan adat-istiadat nan berlaku dalam kebudayaan suku Asmat .
Kelahiran
Kebudayaan suku Asmat dalam proses kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara mutilasi tali pusar nan menggunakan Sembilu, alat nan terbuat dari bambu nan dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
Pernikahan
Proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita nan telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian buat membeli wanita dengan mas kawinnya piring kuno nan berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal bahtera Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga bahtera Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa nan unik lainnya dimana anak babi disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.
Kematian
Bila kepala suku atau kepala adat nan meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan mutilasi ruas jari tangan dari anggota keluarga nan ditinggalkan.
Masyarakat dalam kebudayaan suku Asmat melakukan kegiatan bercocok tanam di ladang, dengan jenis tanamannya wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi juga beternak ayam, babi. Demikian menariknya adat istiadat suku ini, sehingga perlu dilestarikan. Disamping itu juga, bisa digunakan sebagai obyek pariwisata buat mendapatkan devisa bagi negara.
NGODING menimbulkan dampak memori otak "Out Of Data", system badan "Syntax Error"..
Sabtu, 18 April 2015
Selasa, 24 Maret 2015
contoh makalah filsafat islam (sejarah dan perkembangannya)
FILSAFAT ISLAM SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA
MAKALAH FILSAFAT ISLAM
Dosen Pengampu: Rukanda SG S.Sos.I
Disusun Oleh:
1.
Nina Nurazizah
2.
Delfi Arsita
3.
Nuratnasari
4.
Siti Fatma Latukau
FAKULTAS TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL FATAH
CILEUNGSI BOGOR
2014-2015
DAFTAR ISI
1.
Cover…………………………………………………………………………….... 1
2.
Daftar
Isi…………………………………………………………...……............... 2
3.
Bab I
Pendahuluan……………………………………………….……………….. 3
A.
Latar
Belakang………………………….………….………...…………… 3
B.
Rumusan Masalah………………………………………………………… 3
C.
Tujuan……………………………….……………..................................... 3
4.
Bab II
Pembahasan………………………………………………….…………..... 4
1. Sejarah
Singkat Timbulnya Filsafat Islam........................................................ 5
2. Perkembangan Filsafat ………………………………………………… ……. 4
A. Faktor Munculnya
Filsafat Islam………………………………………….. 4
B. Periodisasi Perkembangan
Filsafat Islam………………………………... 6
1. Periode
awal perkembangan Islam…………………………………… 6
2. Periode
klasik…………………………………………………………. 6
3. Periode Modern………………………………………………………… 7
C. Ciri - Ciri
Filsafat Islam……………………………………………………. 8
1.
Sebagai Filsafat Relegius…………………………………………… 8
2.
Filsafat Rasional…………………………………………………. … 8
3.
Filsafat Sinkretis …………………………………………………… 8
4. Filsafat yang Berhubungan Kuat dengan Ilmu Pengetahuan…....... 9
D. Tokoh – Tokoh
Filsafat Islam…………………………………………..... 9
1. Al-Kindi……………………………………………………………... 9
2. Al-Farabi………………………………………………………. …….. 9
3. Ibnu Sina……………………………………………………….. …….. 10
4. Ibnu Miskawaih (W. 1030 M).………………………………..... …….. 10
5.
Bab III
Penutup…………………………………………………………....…..….. 11
a.
Kesimpulan………………………………………………………… …….. 11
b.
Saran
……………………………………………………………………... 11
c. Daftar Pustaka……………………………………………… ……............. 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Awalnya filsafat disebut sebagai induk ilmu pengetahuan
(mother of science) sebab filsafat seakan-akan mampu menjawab pertanyaan
tentang segala sesuatu atau segala hal, baik yang berhubungan dengan alam
semesta, maupun manusia dengan segala problematika dan kehidupannya. Namun
seiring dengan perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang melahirkan berbagai disiplin ilmu baru dengan masing-masing
spesialisasinya, filsafat seakan-akan telah berubah fungsi dan perannya.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
Sejarah dan Perkembangan Filsafat Islam
?
2.
Apa
Saja Faktor Munculnya Filsafat Islam?
3.
Bagaimana
Periodisasi Perkembangan Filsafat
Islam?
4.
Apa
saja Ciri - Ciri Filsafat Islam?
5.
Siapa
Saja Tokoh – Tokoh Filsafat Islam?
C. Tujuan
1.
Untuk Mengetahui Sejarah Fisafat Islam.
2.
Untuk Mengetahui Perkembangan Filsafat Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
SEJARAH SINGKAT TIMBULNYA FILSAFAT ISLAM
Sejarah filsafat bermula di pesisir
Samudra Mediterania bagian Timur pada abad ke-6 SM. Sejak semula filsafat
ditandai dengan rencana umat manusia untuk menjawab persoalan seputar alam,
manusia, dan Tuhan. Itulah sebanya filsafat pada gilirannya mampu melahirkan
sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika dan metafisika yang
menjadi batu bata kebudayaan dunia.
Cara pemikiran Filsafat secara
teknis muncul pada masa permulaan jayanya Dinasti Abbasiyah. Di bawah
pemerintahan Harun al ¡Vrasyid, dimulailah penterjemahan buku-buku bahasa
Yunani kedalam bahasa Arab. Orang-orang banyak dikirim ke kerajaan Romawi di
Eropa untuk membeli manuskrip. Awalnya yang dipentingkan adalah pengetahuan
tentang kedokteran, tetapi kemudian juga pengetahuan-pengatahuan lain termasuk
filsafat.
Penterjemahan ini sebagian besar
dari karangan Aristoteles, Plato, serta karangan mengenai Neoplatonisme,
karangan Galen, serta karangan mengenai ilmu kedokteran lainya, yang juga
mengenai ilmu pengetahuan Yunani lainnya yang dapat dibaca alim ulama Islam.
Tak lama kemudian timbulah para filosof-filofof dan ahli ilmu pengetahuan
terutama kedokteran di kalam umat Islam.
Ketika filsafat bersentuhan dengan
Islam maka yang terjadi bahwa filsafat terinspirasi oleh pokok-pokok persoalan
yang bermuara pada sumber-sumber Wahyu Islam. Semua filosof muslim seperti al
Kindi, al Farabi, Ibn Sina, Mulla Sadra,Suhrawardi dan lain sebagainya hidup
dan bernafas dalam realitas al Quran dan Sunnah. Kehadiran al Quran dan Sunnah
telah mengubah pola berfilsafat dalam konteks Dunia Islam. Realitas dan proses
penyampaian al Quran merupakan perhatian utama para pemikir Islam dalam
melakukan kegiatan berfilsafat.
2. PERKEMBANGAN FILSAFAT ISLAM
A. Faktor Munculnya Filsafat Islam
Pemikiran filsafat masuk ke dalam Islam melalui filsafat
Yunani yang dijumpai kaum Muslimin pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-2 Hijriah
di Suriah, Mesopotamia, Persia, dan Mesir.
Dalam Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve
dijelaskan bahwa kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke daerah-daerah itu
melalui ekspansi Alexander Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM), setelah
mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela (sebelah timur Tigris).
Alexander Agung datang dengan tidak menghancurkan peradaban
dan kebudayaan Persia, bahkan sebaliknya, ia berusaha menyatukan kebudayaan
Yunani dan Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di
wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di
Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Pada masa Dinasti Umayyah, pengaruh kebudayaan Yunani
terhadap Islam belum begitu nampak karena ketika itu perhatian penguasa Umayyah
lebih banyak tertuju kepada kebudayaan Arab. Pengaruh kebudayaan Yunani baru
nampak pada masa Dinasti Abbasiyah karena orang-orang Persia pada masa itu
memiliki peranan penting dalam struktur pemerintahan pusat.
Para Khalifah Abbasiyah pada mulanya hanya tertarik pada
ilmu kedokteran Yunani berikut dengan sistem pengobatannya. Tetapi kemudian
mereka juga tertarik pada filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya. Perhatian pada
filsafat meningkat pada zaman Khalifah Al-Makmun (198-218 H/813-833 M).
Kelahiran ilmu filsafat Islam tidak terlepas dari adanya
usaha penerjemahan naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan
ke dalam bahasa Arab yang telah dilakukan sejak masa klasik Islam. Dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam:
Pemikiran dan Peradaban disebutkan bahwa usaha penerjemahan ini tidak hanya
dilakukan terhadap naskah-naskah berbahasa Yunani saja, tetapi juga
naskah-naskah dari bebagai bahasa, seperti bahasa Siryani, Persia, dan India.[1][1]
Perkembangan filsafat Islam, hidup dan memainkan peran
signifikan dalam kehidupan intelektual dunia Islam. Jamal al-Dīn al-Afgani,
seorang murid Mazhab Mulla Shadra saat di Persia, menghidupkan kembali kajian
filsafat Islam di Mesir. Di Mesir, sebagian tokoh agama dan intelektual
terkemuka seperti Abd. al-Halim Mahmud, Syaikh al-Azhar al-marhum, menjadi pengikutnya.
Filsafat Islam di Persia, juga terus berkembang dan memainkan
peran yang sangat penting meskipun terdapat pertentangan dari kelompok ulama
Syi’ah. Tetapi patut dicatat bahwa Ayatullah Khoemeni, juga mempelajari
dan mengajarkan al-hikmah (filsafat Islam) selama berpuluh puluh tahun di Qum,
sebelum memasuki arena politik, dan juga Murtadha Muthahhari, pemimpin
pertama Dewan Revolusi Islam, setelah
revolusi Iran 1979, adalah seorang filosof terkemuka. Demikian pula di Irak, Muhammad
Baqir al-Shadr, pemimpin politik dan agama yang terkenal, adalah juga
pakar filsafat Islam.[2][2]
B. Periodisasi Perkembangan Filsafat
Islam
Jalaluddin dan Usman Said dalam bukunya Filsafat Pendidkan
Islam Konsep dan Perkembangan mengemukakan perkembangan periodisasi filsafat
pendidikan Islam sebagai berikut:
1.
Periode awal perkembangan Islam
Pemikiran mengenai filsafat pendidikan pada periode awal ini
merupakan perwujudan dari kandungan ayat-ayat al-Qur’an dan al-hadis, yang
keseluruhannya membentuk kerangka umum ideologi Islam. Dengan kata lain, bahwa
pemikiran pendidikan Islam dilihat dari segi al-Qur’an dan hadis, tidaklah
muncul sebagai pemikiran yang terputus, terlepas hubungannya dengan masyarakat
seperti yang digambarkan oleh Islam. Pemikiran itu berada dalam kerangka
paradigma umum bagi masyarakat seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Dengan
demikian pemikiran mengenai pendidikan yang dilihat dalam al-Qur’an dan hadis
mendapatkan nilai ilmiahnya. Pada periode kehidupan Rasulullah Saw tampaknya
mulai terbentuk pemikiran pendidikan yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits
secara murni. Jadi hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan berbentuk
pelaksanaan ajaran al-Qur’an yang diteladani oleh masyarakat dari sikap dan
prilaku hidup Nabi Muhammad saw.
2.
Periode klasik
Periode klasik mencakup rentang masa pasca pemerintahan khulafa’ al-Rasyidun hingga awal masa
imperialis Barat. Rentang waktu tersebut meliputi awal kekuasaan Bani Ummayah
zaman keemasan Islam dan kemunduran kekuasaan Islam secara politis hingga awal
abad ke-19.
Walaupun pembagian ini bersifat
tentative, namun terdapat beberapa pertimbangan yang dijadikan dasar pembagian
itu. Pertama, sistem pemerintahan; kedua, luas wilayah kekuasaan; ketiga, kemajuan-kemajuan yang dicapai;
dan keempat,
hubungan antar negara.
Dari dasar pertimbangan tersebut, maka diketahui bahwa di
awal periode klasik terlihat munculnya sejumlah pemikiran mengenai pendidikan.
Pemikiran mengenai pendidikan tersebut tampak disesuaikan dengan kepentingan
dan tempat serta waktu. Beberapa karya ilmuan Muslim pada periode klasik yang
karya-karyanya secara langsung memuat pembahasan mengenai
pendidikan yaitu:
Ibn Qutaibah (213-276 H), nama lengkapnya Abu Muhammad
Abdullah Ibn Muslim Qutaibah al-Dainuri, keahliannya adalah bahasa Arab dan
sejarah; karya yang terkenal : al-Ma’ani al-Kabirah, syakl al-Qur’an, Gharib
al-Qur’an, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadits, Fadhl al-Arab, al-Syi’r wa al-Syu’ara;
al-Ma’arif, al-Radd ‘ala al Jahimmiyah wa al-Musyibbihah, Imamah wa al-Siyasah,
dan ‘Uyun al-Akhbar. Pemikirannya menyangkut tentang masalah pendidikan bagi
kaum wanita, ilmu yang bermanfaat dan nilai-nilai bagi yang mengembangkannya.
Perkembangan filsafat pendidikan Islam pada periode klasik ini
masih menyimpan tokoh-tokoh seperti ; Ibnu Masarrah (269-319) yang pemikirannya
menyangkut tentang jiwa dan sifat-sifat manusia, Ibnu Maskawaih (330-421),
pemikirannya tentang pentingnya pendidikan akhlak, Ibnu Sina (370-428), karya
besarnya as-Syifa dan al-Qanun al-Tibb sebuah karya ensiklopedi kedokteran, dan
Al-Gazali (450/1058-505/1111 M), karya besarnya sering menjadi acuan berbagai
pandangan masyarakat dan sangat terkenal yaitu Ihya’ Ulum al-Din, menurutnya bahwa pendidikan yang baik adalah
yang dapat mengantarkan manusia kepada keridhaan Allah swt., yang tentunya
selamat hidup dunia dan akhirat.
3.
Periode Modern
Periode modern merujuk pada pembagian periodesasi sejarah
Islam, yaitu menurut Harun Nasution, bahwa periode modern
dimulai sejak tahun 1800 M. periode ini ditandai dengan dikuasainya Bani Abbas
dan Bani Ummaiyah secara politik dan dilumpuhkan oleh imperialis Barat. Namun
ada tiga kerajaan besar Islam yang masih memegang hegemoni kekuasaan Islam,
yaitu Turki Usmani (Eropa Timur dan Asia-Afrika), kerajaan Safawi (Persia), dan
kerajaan Mughol (India).
Beberapa pemikir pendidikan yang tersebar di sejumlah
kekuasaan Islam tersebut sebagai tokoh yang ada kaitannya dengan perkembangan
filsafat pendidikan Islam pada periode modern, seperti:
Isma’il Raj’i al-Faruqi (1921-1986), membidangi secara profesional
bidang pengkajian Islam, pemikirannya tersebar di berbagai dunia Islam, dan
karya pentingnnya; Cristian Ethics, An Historical Atlas of Religions of the
World, Trialogue of Abrahamic Faith, dan The Cultural Atlas of Islam,
pandangannya bahwa umat Islam sekarang berada dalam keadaan yang lemah, dan
dualisme sistem pendidikan yang melahirkan kejumudan dan taqlid buta. Oleh
sebab itu pendidikan harus dikembangkan ke arah yang lebih modern dan berorientasi ketauhidan.
Puncak dari pemikiran filsafat pendidikan Islam periode
modern terangkum dalam komperensi pendidikan Islam sedunia di Makkah tahun 1977
sebagai awal pencetusan konsep tentang penanganan pendidikan Islam. Selanjutnya
di Islamabad (1980) menghasilkan pedoman tentang pembuatan pola kurikulum, di
Dhakka (1981) menghasilkan tentang perkembangan buku teks, dan di Jakarta
(1982) telah menghasilkan tentang metodologi pengajaran.
C.
Ciri - Ciri Filsafat Islam
Filsafat Islam
mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut :
1. Sebagai
Filsafat Relegius.
Topik-topik filsafat Islam bersifat relegius, dimulai dengan
meng-Esakan Tuhan dan menganalisis secara universal dan menukik ke teori
keTuhanan yang tak terdahuluaisebelunya. Seolah-olah menyaingi alairan kalamiah
Mu’tazilah dan Asy’ariyah yang mengoreksi kekurangan nya dan berkonsentrasi
mengambarkan Allah Yang Maha Agung dalam pola yang berlandasan tajrid
(pengabstrakan), tanzih (penyucian), keesaan mutlak dan kesempurnaan total.
Dari Yang Esa ber-emanasi segala sesuatu. Karena Ia pencita, maka Ia menciptakan dari bukan
sesuau, menciptakan alam sejak azzali, mengatur dan menatanya. Karena alam
merupakan akibat bagi-Nya, maka dalam wujud dan keabadian-Nya, maka Ia
menciptakannya karena semata-mata anugerah-Nya.
2.
Filsafat
Rasional.
Akal manusia juga merupakan salah satu potensi jiwa dan
disebut rasional soul. Walaupun berciri khas relegius-spritual, tetapi tetap
bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan, manusia dan alam,
karena wajib al-wujud adalah akal murni. Ia adalah obyek berpikir sekaligus
obyek pemikiran.
3.
Filsafat Sinkretis
Filsafat Islam memadukan antara sesama filosof. Memadukan
berarti mendekatkan dan mengumpulkan dua sudut, dalam filsafat ada aspek-aspek
yang tidak sesuai dengan agama.
Sebaliknya sebagian dari teks agama ada yang tidak sejalan dengan sudut pandang
filsafat. Para filosuf Islam secara khusus konsentrasi mempelajari Plato dan
Ariestoteles. Untuk itu mereka menerjemahkan dialog-dialog penting Plato.
Republik, hukum, Themaus, Sophis, Paidon, dan Apologia (pidato pembelaan
Socretes).
4.
Filsafat yang Berhubungan Kuat dengan Ilmu Pengetahuan
Saling take and give, karena dalam kajian-kajian filosof
terdapat ilmu pengetahun dan sejumlah problematika saintis, sebaliknya dalam
saintis terdapat prinsip-prinsip dan teori-teori filosofis. Filosof Islam menganggap ilmu-ilmu
pengetahuan rasional sebagai bagian dari filsafat. Misalnya adalah buku As-Syifa’ milik Ibnu
Sina yang merupakan Encyclopedia,
Al-Qanun, kemudian Al-Kindi mengkaji masalah-masalah matematis dan
fisis. Al-Farabi mempunyai kajian Ilmu ukur dan mekanik.
D.
Tokoh – Tokoh Filsafat Islam
1.
Al-Kindi
Hidup pada tahun
796-873 M pada masa khalifah al-Makmun dan al-Mu’tashim. Al-Kindi menganut aliran Mu’tazilah dan kemudian
belajar filsafat. Menurut Al-Kindi
filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Kata Al-Kindi :
Filsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah filsafat utama, yaitu
ilmu tentang Yang Benar Pertama, yang menjadi sebab dari segala yang benar.
Masih menurut Al-Kindi kebenaran ialah bersesuaian apa yang ada dalam akal dan
yang ada diluar akal.
Di dalam alam terdapat benda-benda yang dapat ditangkap
dengan panca indra. Benda-beanda ini merupakan juz’iyat. Yang terpenting bagi filsafat bukan juz’iyat yang tak terhingga banyaknya, tetapi
yang terpenting adalah hakekat yang terdapat dalam juz’iyat, yaitu
kauliyat. Kemudian filsafatnya yang lain yaitu tentang jiwa d an roh. [3][3]
2.
Al-Farabi
Al-Farabi hidup tahun 870-950 M, dia meninggal dalam usia 80
tahun. Filsafatnya yang terkenal adalah teori emanasi (pancaran). Filsafatnya mengatakan bahwa yang banyak ini
timbul dari Yang Satu. Tuhan bersifat Maha Satu tidak berubah, jauh dari materi
, jauh dari arti banyak, Maha sempurna dan tidak berhajat apapun. Kalau
demikian hakekat sifat Tuhan, bagaimana terjadinya alam materi yang banyak ini dari yang Maha satu ?
Menurut Al-Farabi alam terjadi dengan cara emanasi atau
pancaran dari Tuhan yang berubah menjadi suatu maujud. Perubahan itu mulai dari
akal pertama sampai akal kesepuluh. Kemudian dari akal kesepuluh muncullah
berupa bumi serta roh-roh dan materi pertama yang menjadi dasar dari empat unsur:
api, udara, air dan tanah. Pada falsafat kenabian dia mengatakan bahwa Nabi dan
rasul adalah pilihan, dan komunikasi dengan akal kesepuluh terjadi bukan atas
usaha sendiri tetapi atas pemberian Tuhan.
3.
Ibnu Sina
Ibnu Sina lahir di Asyfana 980 M dan wafat di Isfahana tahun
1037 M. Pemikiran terpenting yang dihasilkan oleh Ibnu Sina adalah tentang jiwa. Ibnu Sina juga menganut paham pancaran, jiwa
manusia memancar dari akal kesepuluh. Dia membagi jiwa dalam tiga bagian, yaitu
jiwa tumbuh-tumbuhan (nafsu nabatiyah), jiwa binatang ( nafsu hayanawiyah), dan
jiwa manusia (nafsu natiqah).
Filsafat tentang wahyu dan nabi ia berpendapat, bahwa Tuhan
menganugrahkan akal meteriil yang besar lagi kuat yang disebut al-hads (intuisi). Tanpa melalui latihan
dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu
dari Tuhan. Akal yang seperti ini mempunyai daya suci (quwwatul qudsiyah). Ini
bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada
nabi-nabi.
Dari beberapa kajian diatas, filosof muslim dalam
pemikirannaya selalu bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio digunakan secara
bebas dan radikal, namun masih
terkendali oleh wahyu yang merupakan
pangkal dari agama Islam.
4.
Ibnu Miskawaih (W. 1030 M).
Beliau lebih dikenal dengan filsafat
akhlaknya yang tetuang dalam bukunya, Tahzib al-Akhlak. Menurutnya, akhlak
adalah sikap mental atau jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa
pemikiran yang dibawa sejak lahir. Kemudian ia berpendapat bahwa jiwa tidak
berbentuk jasmani dan mempunyai bentuk tersendiri. Jiwa memiliki tiga daya yang
pembagiannya sama dengan pembagian al-Kindi. Kesempurnaan yang dicari oleh
manusia ialah kebajikan dalam bentuk
ilmu pengetahuan dan tidak tunduk
pada hawa nafsu serta keberanian dan keadilan.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Filsafat telah berkembang dan berubah fungsi dari induk ilmu
pengetahuan menjadi semacam pendekatan dan perekat berbagai macam ilmu
pengetahuan yang telah berkembang pesat dan terpisah satu dengan lainnya
(interdisciplinary approach), dan lebih kental lagi bahwa filsafat sebagai alat
analisis dalam memecahkan permasalahan filosofis dari dunia ilmu pengetahuan
dan kehidupan manusia (philosophical analysis)
Perkembangan filsafat pendidikan Islam terbagi dalam periode
awal jaman permulaan Islam yang dibawa Rasul Muhammad saw., dan khulafa
al-Rashidin, periode klasik yang dimulai dari pasca pemerintahan khulafa
al-Rashidun sampai awal masa imperialisme Barat, rentang itu dapat pula dimulai
dari awal kekuasaan Bani Ummayyah sampai pada kemuduran kekuasaan Islam secara
politis hingga abad ke-19, dan periode modern dan perkembangan filsafat
pendidikan Islam yang mencuat dalam sebuah konferensi pendidikan Islam sedunia.
Perbandingan antara Filsafat Barat dan Filsafat Islam adalah
sebagai berikut :
Persamaannya, sama-sama berpikir radikal, bebas.
Kedua-duanya menggunakan logikal akal, dialektika. Kedua-duanya berfikir tentang realitas alam,
kosmologi.
Perbedaannya:
a. Filsafat Barat -
Menggunakan rasio, Berpijak pada hal-hal
yang konkrit, Hanya berfilsafat.
b. Filsafat
Islam
- Berfilsafat menggunakan akal dan bersandar
pada wahyu, - Ruang lingkup
pembahasannya yang abstrak maupun konkrit, fisik maupun metafisik, Berfilsafat untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan memahami realitas alam, Berfilsafat dimulai dengan keimanan kepada
Allah.
2.
Saran
Di samping mempelajari ilmu dalam
perspektif fardhu ‘ain. Juga tak kalah pentingnya mempelajari ilmu perspektif Fardhu Kifayah seperti Ilmu tentang Filsafat
Islam serta sejarahnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin,
H.M, 2000. Filsafat Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Aksara.
Jalaluddin dan Usman Said, 1999. Filsafat
Pendidikan Islam Konsep dan Perkembangan.
Jakarta:
Rajawali Pers.
Langgulung, Hasan, 1995. Beberapa Pemikiran
Tentang Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
www.republika.co.id
www.referensimakalah.com
[1][1] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/03/29/m1nkvp-filsafat-islam-jawaban-atas-masalah-bangsa
( di Uplod Tgl.07 Maret 2013 )
[2][2] http://www.referensimakalah.com/2012/08/sejarah-perkembangan-filsafat-islam.html
, ( di Uplod Tgl.07 Maret 2013 )
[3][3]
http://artikeldanmakalah.blogspot.com/2010/12/makalah-filsafat.html ( Di Uplod Tgl.07 Maret 2013 )
Langganan:
Postingan (Atom)